REAKSI VAKSIN

Klasifikasi KIPI

Reaksi terhadap suatu vaksin bersifat sangat individual, walaupun pembuatan, penyimpanan dan cara pemberiannya sudah sesuai dengan SOP. Dari 5 klasifikasi KIPI yang telah disebutkan sebelumnya, reaksi vaksin dibagi menjadi reaksi akibat komponen vaksin dan reaksi akibat cacat mutu vaksin.

 

Reaksi vaksin dapat dibagi menjadi dua kelompok :

Reaksi ringan

Reaksi berat adalah istilah yang termasuk KIPI serius dan reaksi berat lainnya.

Reaksi berat

Pesan Utama

Harus diingat bahwa toleransi masyarakat terhadap efek simpang vaksin sangat rendah. Oleh karena itu vaksin baru diberi izin edar kalau frekuensi KIPI berat sangat jarang dan apabila hanya KIPI ringan yang dapat sembuh atau pulih dengan sendirinya yang dilaporkan.

Reaksi vaksin ringan

Keterangan gambar: Reaksi lokal: pembengkakan atau kemerahan di lokasi suntikan.

Sumber : Barbara Pahud (Klinik dan Rumah Sakit Anak Mercy, UMKC)

Idealnya vaksin tidak menimbulkan efek simpang, kalau pun ada sangat ringan.

Pemberian vaksin akan merangsang pembentukan kekebalan dengan cara sistem kekebalan penerima imunisasi bereaksi terhadap antigen yang ada didalam vaksin. Reaksi lokal dan sistemik seperti rasa sakit dan demam bisa muncul setelah imunisasi sebagai bagian dari proses reaksi kekebalan. Sebagai tambahan, komponen lain yang ada didalam vaksin seperti ajuvanAjuvanAdalah substansi farmakologi (garam alumunium, emulsi minyak dalam air) yang dapat mengubah efek dari substansi lain seperti obat atau vaksin yang apabila diberikan sendiri yang hanya sedikit memberikan efek langsung. Ajuvan seringkali berada di dalam vaksin dengan tujuan untuk memperkuat respon imun dari resipien terhadap antigen, untuk meminimalisasi materi asing., bahan penstabilStabilizerKomponen yang dipergunakan untuk menjaga efektivitas vaksin selama masa penyimpanan. Stabilitas vaksin sangat penting, terutama apabila sistem rantai dingin tidak baik. Faktor yang mempengaruhi stabilitas adalah suhu dan pH., dan bahan pengawetPreservatifSesuatu bahan yang ditambahkan pada vaksin dengan kemasan multidosis untuk mencegah pertumbuhan bakteri dan jamur. Pada umumnya yang digunakan adalah thiomersal yaitu bahan yang mengandung merkuri. dapat menimbulkan reaksi vaksin. Vaksin yang baik telah dibuat sedemikian rupa sehingga reaksi efek simpang ringannya sangat sedikit, sedangkan manfaatnya untuk mencegah PD3I sangat besar.

Frequensi reaksi vaksin yang sering terjadi pada pemberian vaksin yang umum digunakan, dan tata laksananya, disajikan dalam tabel berikut ini. Reaksi vaksin ini biasanya muncul sehari atau dua hari setelah imunisasi (kecuali ruam setelah imunisasi campak muncul pada hari ke 6 – 12 pasca imunisasi) dan berlangsung selama satu sampai beberapa hari.26

Reaksi vaksin ringan yang umum terjadi dan tata laksana

Vaksin Reaksi lokal Reaksi sistemik
(sakit, bengkak dan kemerahan) Demam > 38°C Rewel, malaise dan gejala sistemik lainnya
Tata laksana
  • Kompres dingin pada lokasi suntikan
  • Parasetamol6
  • Berikan minum yang banyak
  • Berikan pakaian yang sejuk dan nyaman
  • Berikan spons hangat
  • Parasetamol6
  • Berikan minum yang banyak
BCG1 90% – 95%
Hepatitis B Orang dewasa terjadi sampai 15%
Anak-anak terjadi sampai 5%
1 – 6%
Hib 5 – 15% 2% – 10%  

Campak/
MR/MMR

~ 10% 5% – 15% 5% (Ruam)

Polio (OPV)

Tidak ada < 1% < 1%2
Pertussis (DTwP)3 Kejadian sampai 50% Kejadian sampai 50% Kejadian sampai 55%

Pneumokok konjugasi5

~ 20% ~ 20% ~ 20%
Tetanus/
DT/aTd
~ 10%4 ~ 10% ~ 25%
  1. Munculnya reaksi lokal bervariasi pada berbagai jenis vaksin yang berbeda, hal ini sangat tergantung pada strain mikroorganisme yang dipakai untuk membuat vaksin dan jumlah jenis antigen yang ada dalam vaksin tersebut.
  2. Diare, sakit kepala dan/atau sakit otot.
  3. Jika dibandingkan dengan vaksin pertusis sel utuh (DTwP), maka vaksin pertusis aselular (DTaP) lebih jarang menimbulkan reaksi vaksin.
  4. d. Frequensi reaksi lokal yang dilaporkan cenderung meningkat pada dosis booster, terjadi sampai 50 – 85%.
  5. e. Sumber: http://www.cdc.gov/vaccines/hcp/acip-recs/
  6. f. Dosis parasetamol: sampai dengan 15 mg/kgBB tiap 6–8 jam, dan maksimum 4 dosis selama 24 jam.

Reaksi Vaksin Berat

Reaksi vaksin beratReaksi vaksin yang beratIni bukan terminologi baku. Ini merupakan reaksi vaksin yang umumnya tidak mengakibatkan masalah jangka panjang, tetapi dapat menimbulkan kecacatan dan walaupun jarang, dapat mengancam jiwa. Reaksi vaksin yang berat juga termasuk reaksi serius dan reaksi berat lainnya. seperti kejangKejang demamSuatu keadaan yang ditimbulkan oleh aktivitas listrik yang tidak terkontrol di dalam otak, sehingga menimbulkan kejang, gejala klinis yang khas, gangguan kesadaran atau kombinasi dari gejala-gejala tersebut., trombositopeniaTrombositopeniaPenurunan hebat jumlah trombosit yaitu sel yang bertanggung jawab terhadap pembekuan darah. Trombositopenia dapat terjadi karena kegagalan dalam produksi trombosit, penghancuran trombosit di limpa, peningkatan destruksi trombosit, peningkatan penggunaan trombosit, atau pengenceran trombosit., Hypotonic Hyporensponsive Episode (HHE)Hypotonic hyporensponsive episode (HHE)Dikenal sebagai reaksi serius setelah imunisasi, terutama vaksin yang mengandung pertusis. HHE adalah kejadian kehilangan rasa sensorik akut atau penurunan kesadaran disertai dengan pucat dan kelemahan otot. Tidak ada gejala sisa jangka panjang yang telah diidentifikasi pada sekelompok kecil anak-anak yang dilakukan pengamatan jangka panjang. HHE bukan kontra indikasi pada pemberian dosis vaksin pertusis berikutnya. dan menangis terus menerus, harus selalu dilaporkan. Banyak reaksi vaksin berat yang tidak menimbulkan masalah jangka panjang. Syok anafilaktik, walaupun bisa fatal, apabila tertangani dengan baik maka tidak menimbulkan dampak jangka panjang.

Pesan Utama

Reaksi alergi berat (berupa syok anafilaksis), dapat mengancam jiwa. Setiap petugas imunisasi harus tahu gejala-gejala reaksi alergi agar dapat melakukan tindakan segera untuk mengatasinya.

Reaksi vaksin berat, onset interval kejadian, frequensi kejadian untuk setiap jenis vaksin pada anak

Jenis Vaksin Reaksi* Onset Interval kejadian26 Frequensi kejadian per dosis yang di berikan
BCG28 Infeksi sistemik yang fatal dari BCG 1 – 12 bulan 0,19 – 1,56/1 000 000
OPV29 Vaccine associated paralytic poliomyelitis (VAPP)** 4 – 30 hari 2 – 4/1 000 000
DTwP30 Menangis terus menerus & kejang*** 0 – 24 jam < 1/100
HHE 0 – 24 jam < 1/1000 – 2/1000
Campak31 Kejang demam 6 – 12 hari 1/3000
Trombositopenia 15 – 35 hari 1/30 000
Anafilaksis 1 jam 1/100 000

* Reaksi vaksin (kecuali syok anafilaksis) tidak terjadi pada orang yang sudah kebal (90% dari mereka yang menerima dosis kedua). Anak usia >6 tahun jarang mengalami kejang demam.

 **Risiko terjadi VAPP lebih tinggi pada dosis pertama (1/750&nbsp;00 dibandingkan dengan 1/5,1 juta dosis berikutnya) dan pada orang dewasa serta mereka yang imunokompromais.

*** Kejang hampir selalu disertai dengan demam. Risiko ini sangat tergantung pada usia. Risikonya lebih rendah pada bayi usia < 4 bulan.

Perbedaan antara KIPI serius dan KIPI berat

Perlu diketahui bahwa ada perbedaan antara istilah KIPI serius dan KIPI berat. KIPI serius, istilah ini adalah istilah resmi yang dipakai oleh Uppsala Monitoring Center (UMC), yaitu setiap kejadian medis yang tidak diinginkan terjadi pada setiap dosis vaksin yang diberikan yang menyebabkan kematian, dan memerlukan perawatan medis di rumah sakit atau perawatan lanjutan di rumah sakit, atau menyebabkan kecacatan yang permanen, atau mengancam jiwa.

KIPI berat merupakan istilah yang lebih luas, termasuk reaksi berat terhadap vaksin dan reaksi lainnya yang berat. Reaksi berat ini tidak harus menjadi masalah yang berkepanjangan.