Pesan utama sederhana

Photo credit: WHO/Christopher Black
Photo credit: WHO/Christopher Black

Pada modul sebelumnya dan pada studi kasus yang lalu, kita telah menggambarkan bagaimana mengkomunikasikan informasi rinci yang rumit tentang KIPI secara akurat dan sistematik, menggunakan prosedur yang sudah disetujui untuk melaporkan kejadian ikutan ke tingkat yang lebih tinggi (misalnya BPOM). Fokus dari modul ini adalah untuk mendukung kemampuan kita untuk mengkomunikasikan dengan baik pesan yang sudah ditargetkan dan disederhanakan tentang keamanan vaksin kepada target pendengar.

Encoding communication
Encoding communication.

Sumber: wikipedia.org

 

Kejelasan tentang pesan utama dan pesan sederhana adalah penting. Untuk membuat komunikasi kita sederhana dan jelas, tetapi mencakup semua unsur penting, pertama kita harus mengetahui :

  • Siapa target pendengar kita?
  • Apa latar belakang pengetahuan, sikap dan keyakinan mereka tentang vaksinasi?

 

Pertanyaan

Contoh pesan-pesan utama dari suatu pernyataan yang disusun untuk merespon kekuatiran masyarakat akan adanya KIPI klaster yang fatal:

  • Tiga anak meninggal setelah imunisasi campak di Klinik Sentral.
  • Penyelidikan kasus menemukan bahwa penyebab kematian bukanlah karena vaksin, tetapi akibat jarum yang tidak steril.
  • Campak menyebabkan 750.000 kematian dan kecacatan pada anak-anak di seluruh dunia setiap tahun.
  • Vaksin campak adalah satu-satunya cara efektif di dunia untuk mengendalikan penyakit campak.
  • Pelatihan staf mengenai penyuntikan yang aman dan pengendalian infeksi akan menjadi prioritas kami untuk mencegah terjadinya kejadian ikutan yang sama di masa datang.

Lihat contoh pesan utama tersebut. Dari lima kategori KIPI yang telah kita pelajari pada Modul, yang mana yang menjadi penyebab masalah di sini ?

Jawaban

KIPI disebabkan oleh kesalahan prosedur karena penyelidikan menemukan bahwa jarum yang tidak steril dipakai untuk penyuntikan.

Untuk mencegah praktik seperti ini, WHO merekomendasikan penggunaan alat suntik steril sekali pakai (disposable auto-disable atau AD syringesSemprit sekali pakai rusakSemprit sekali pakai rusak adalah semprit yang terkunci sendiri dan hanya bisa dipakai sekali. Semprit ini merupakan pilihan untuk imunisasi yang memerlukan suntikan.) dengan jarum yang sudah terpasang untuk semua imunisasi suntikan. Setelah dipakai, AD syringes akan mengunci sendiri sehingga hanya bisa dipakai satu kali. AD syringes merupakan alat pilihan imunisasi suntikan. AD syringes tidak bisa dipakai untuk kedua kalinya karena alat akan “terkunci” bila batang suntikan telah ditekan untuk menyuntikan vaksin, dan ia tidak dapat ditarik kembali.

Ingat bagaimana pesan kunci disusun untuk mendukung pesan utama dalam pernyataan tersebut :

  • Informasi tentang kejadian secara spesifik,
  • Kemungkinan penyebab KIPI,
  • Bukti ilmiah tentang penyakit,
  • Bukti ilmiah tentang vaksin,
  • Tindakan yang dilakukan untuk merespon kejadian.

Menghindari penyederhanaan yang terlalu jauh atau menyembunyikan informasi

Staf klinik imunisasi mungkin takut mengemukakan topik tentang risiko yang berkaitan dengan vaksin kepada masyarakat, karena justru akan menyebabkan kekuatiran yang sebelumnya tidak ada. Sejumlah petugas kesehatan mungkin juga akan berusaha untuk menyembunyikan sebagian informasi tertentu tentang keamanan vaksin kepada orang tua, pengasuh atau penerima vaksin, dan menganggap itu adalah bagian dari ketidaktahuan mereka. Petugas kesehatan mungkin menganggap bahwa masyarakat tidak akan dapat menyerap informasi ilmiah yang rumit, misalnya tentang bagaimana sistem kekebalan tubuh merespon vaksin dan mengapa beberapa reaksi kadang bisa timbul. Untuk alasan yang sama, petugas kesehatan merasa ragu menjelaskan risiko dan manfaat vaksin dengan menggunakan angka-angka kejadian ikutan, angka kejadian yang sama pada masyarakat yang diimunisasi, dan bagaimana risiko masyarakat terkait dengan risiko KIPI yang terjadi pada individu yang divaksinasi.

Pesan Utama

Penting ditekankan, bahwa tidak etis melakukan prosedur invasif seperti imunisasi tanpa terlebih dahulu mendapatkan persetujuan (informed consent) dari penerima vaksin atau dari orang dewasa yang bertanggung jawab atas si anak.

Persetujuan tidak dapat diberikan kecuali semua informasi penting telah dikomunikasikan kepada sasaran dalam bahasa sederhana dan mudah dimengerti yang menjadikan sasaran bisa membuat keputusan.