Investigasi

Melakukan investigasi KIPI

Beberapa laporan KIPI membutuhkan investigasi lebih lanjut. Tujuannya adalah untuk :

  • Mengkonfirmasi diagnosis (atau mengajukan diagnosis lain) dan menentukan kondisi akhir dari kejadian ikutan.
  • Mengidentifikasi spesifikasi dari vaksin yang digunakan untuk imunisasi pasien.
  • Menilai aspek operasional dari program imunisasi, yang mungkin menyebabkan kesalahan prosedur imunisasi.
  • Menjadi dasar untuk mencari KIPI lain/adanya pengelompokan.
  • Membandingkan risiko dasar (background risk) kejadian ikutan (yang terjadi pada orang yang tidak diimunisasi) dengan angka yang terjadi pada masyarakat yang diimunisasi.

 

Suatu instrument penting untuk melakukan suatu investigasi KIPI adalah WHO's "Aide-Memoire on AEFI Investigation". Pelajari instrumen tersebut untuk mengetahui lebih jauh tentang definisi kunci, pedoman untuk mempersiapkan investigasi, selain juga daftar tilik yang memberikan informasi yang bermanfaat untuk tiap langkah investigasi.Lihat grafik di bawah ini untuk melihat langkah praktis yang harus dipertimbangkan saat menyusun prosedur investigasi KIPI.

Laporan KIPI yang harus diinvestigasi

Tidak semua laporan KIPI perlu investigasi. Kejadian yang perlu investigasi adalah :

Investigasi KIPI klaster

Klaster KIPI didefinisikan sebagai dua atau lebih kejadian ikutan yang sama yang berkaitan dalam waktu, tempat atau vaksin yang diberikan. Selain mengecek faktor-faktor tersebut (misalnya mengecek batch vaksin), investigator juga harus mencari KIPI lain yang terjadi pada kelompok umur dan populasi yang serupa dengan predisposisi genetik atau penyakit.

Investigasi klaster dimulai dengan membuat definisi kasus dan mengindentifikasi semua kasus yang memenuhi definisi kasus tersebut. Selanjutnya, kepala program imunisasi harus melakukan dua langkah berikut :

  1. 1. Mengindentifikasi riwayat imunisasi dari kasus klaster termasuk rincian tentang kapan, dimana dan vaksin apa yang diberikan, dengan mengumpulkan dan mencatat :
    • Data rinci tiap pasien,
    • Data yang terkait dengan program (penyimpanan dan penanganan, dll),
    • Praktik imunisasi dan praktik lain yang dilakukan petugas kesehatan.
  2. 2. Mengidentifikasi semua paparan umum pada kasus, seperti :
    • Semua data tentang vaksin yang digunakan (nama, nomor lot, dsb),
    • Data tentang orang lain di wilayah tersebut (termasuk juga yang tidak diimunisasi).

Memasukkan uji vaksin pada investigasi KIPI

Bila memenuhi dengan hipotesa kerja dari kemungkinan penyebab reaksi vaksin, pengumpulan dan pengujian speimen vaksin akan dapat mengkonfirmasi atau menyingkirkan vaksin yang dicurigai sebagai penyebab KIPI.

Untuk pengujian vaksin, kumpulkan sisa vaksin (bila memungkinkan) dari fasilitas kesehatan. Bila vaksin telah dilarutkan, kumpulkan juga sejumlah vaksin yang belum dibuka dan pelarutnya dari pelayanan kesehatan yang sama. Spesimen vaksin harus ditempatkan dalam kondisi penyimpanan yang baik sampai dilakukan pengujian.

Bila suatu vaksin tersangkut dalam suatu KIPI atau klaster, biasanya jarang dibutuhkan uji kualitas vaksin, yang sudah menjadi protokol dari regulasi nasional. Uji potensiPotensiSuatu ukuran kekuatan atau imunogenitas vaksin. idak akan banyak berarti dan hanya bermanfaat ntuk menentukan kurangnya efikasi vaksin.

Bila telah diputuskan untuk menguji vaksin (dan bila perlu pelarutnya), pengujian yang dipilih tergantung dari situasi kejadian ikutan tersebut dan hipotesa kerja dari kemungkinan penyebab. Satu atau lebih tes berikut mungkin perlu dilakukan :

  • Tes visual untuk kebersihan, adanya benda asing, kekeruhan dan perubahan warna,
  • Uji sterilitas (vaksin dan/atau alat suntik) bila dicurigai adanya infeksi.
  • Analisis komposisi kima: kadar pengawet, ajuvan, dsb (misalnya kadungan aluminium); komponen abnormal (misalnya kecurigaan keliru memakai obat sebagai vaksin atau pelarut).
  • Uji biologis untuk benda asing atau toksin bila dicurigai adanya toksisitas yang tidak normal (catatan: uji neurovirulence OPV mahal dan spesimen yang cukup biasanya tidak tersedia).
  • Tambahan informasi performa vaksin di lapangan harus didapatkan dari produsen vaksin.