Keamanan vaksin dalam program imunisasi

Pada era sebelum ditemukannya vaksin tercatat bahwa, angka kesakitan dan angka kematian yang disebabkan oleh penyakit yang dapat dicegah dengan imunisasi sangatlah tinggi. KIPI tidak pernah ada, karena imunisasi belum pernah dilakukan. Era pra-vaksinasi disebut sebagai TAHAP 1 dimana vaksin belum diperkenalkan kepada masyarakat.

Potential stages in the evolution of an immunisation programme
Tahap potensial pada perkembangan Program imunisasi

Diagram di adopsi dari Chen RT et al. The Vaccine Adverse Event Reporting SystemSistem pelaporan Kejadian Ikutan Pasca Imunisasi (KIPI)Sistem surveilans pasif di Indonesia untuk mengumpulkan laporan reaksi terhadap vaksin. Dalam pengawasan Ditjen PP & PL Kemenkes RI dan BPOM. (VAERS). Vaccine, 1994: 12(6):542–550.

Pada TAHAP 2 ini vaksin yang efektif untuk mencegah penyakit tertentu diperkenalkan dan beredar di pasaran. Cakupan pemakaiannya juga meningkat, sehingga menyebabkan menurunnya insidenInsidenJumlah kasus baru (misalnya dari suatu penyakit, kejadian ikutan) yang terjadi pada suatu populasi tertentu dalam suatu interval waktu, umumnya satu tahun. penyakit tersebut di masyarakat. Dengan demikian pada fase ini insidens penyakit dan munculnya reaksi KIPI, mulai menjadi perhatian.

Biasanya perhatian masyarakat terhadap KIPI dikuatkan oleh media massa yang membesar-besarkan satu–dua kasus KIPI yang terjadi di suatu tempat. Hal ini bisa menyebabkan :

  • Hilangnya kepercayaan masyarakat terhadap imunisasi,
  • Menurunnya cakupan imunisasi,
  • Munculnya kembali kasus PD3I, bahkan menjadi KLB. Definisi KLB adalah meningkatnya insiden suatu penyakit di suatu wilayah dalam kurun waktu tertentu melebihi angka insiden normal penyakit-penyakit tersebut di wilayah itu.

Hilangnya kepercayaan masyarakat terhadap program imunisasi dan meningkatnya insiden dan KLB PD3I disebut sebagai TAHAP 3.

Munculnya kembali PD3I dan tersedianya jenis-jenis vaksin alternatif yang lebih efektif dan lebih aman, memulihkan kepercayaan masyarakat terhadap imunisasi. Dengan pulihnya kembali kepercayaan masyarakat terhadap program imunisasi, cakupan imunisasi akan kembali meningkat dan insidensi PD3I menurun, fase ini disebut TAHAP 4.

Untuk PD3I yang dapatPenyakit yang dapat dicegah dengan vaksinPenyakit-penyakit yang ada vaksinnya untuk memberikan perlindungan sebagian atau lengkap. dieradikasi, seperti cacarCacar (Smallpox)Penyakit akut, sangat menular, seringkali fatal yang disebabkan oleh virus variola, dan ditandai dengan demam tinggi, dan rasa nyeri diikuti dengan terbentuknya erupsi kulit berisi air, bernanah yang menyebar, dan menimbulkan keropeng. World Health Assembly mendeklarasi eredikasi pada tahun 1980. pemberian imunisasi pada akhirnya bisa dihentikan, dengan demikian akan menghilangkan risiko terjadinya KIPI. Fase terjadinya eradikasi suatu PD3I disebut TAHAP 5.

Agar fase-fase yang di gambarkan dalam grafik diatas berjalan mulus dari fase 1 ke TAHAP 5 untuk tiap jenis PD3I, maka masalah keamanan vaksin harus dipantau dan dievaluasi secara serius. Setiap ada KIPI harus direspons secara cepat dan tepat agar kepercayaan masyarakat terhadap program imunisasi tidak pernah pudar. Upaya mempertahankan kepercayaan masyarakat terhadap program imunisasi harus diperlakukan secara terus menerus agar fase-fase dalam grafik diatas tidak terulang lagi. Artinya setiap jenis PD3I berakhir pada TAHAP 5 dengan mulus.

Pesan Utama

Makin berhasil program imunisasi maka angka PD3I makin menurun, sehingga perhatian masyarakat akan terfokus pada KIPI. Keadaan ini menimbulkan persepsi yang rancu, sehingga dapat menurunkan kepercayaan masyarakat terhadap program imunisasi. Masyarakat mengabaikan ancaman PD3I dan lebih terfokus pada KIPI, bukan efektivitas vaksin dalam mencegah PD3I.

Agar kepercayaan masyarakat terhadap program imunisasi dapat dipertahankan, perlu dilakukan hal-hal sebagai berikut :

  • Memantau KIPI secara terus menerus.
  • Mengkaji secara ilmiah terhadap kemungkinan adanya hubungan langsung reaksi simpang vaksin dengan vaksin.
  • Melakukan respon apabila ada risiko baru terhadap vaksin.
  • Memberikan penyuluhan kepada sasaran dan orangtuanya tentang manfaat imunisasi dan risiko apabila tidak diimunisasi oleh tenaga kesehatan sebelum melakukan pelayanan.