Jenis Vaksin

Pada modul 1 kita telah mempelajari bahwa vaksin bermanfaat untuk mencegah PD3I yang berbahaya dan bahwa BPOM sangat ketat dalam persyaratan keamanan vaksin sebelum memberikan izin edar.

Terhadap vaksin yang sudah diberikan izin edar harus dilakukan tindak lanjut yang ketat berupa pengamatan terus menerus untuk melihat jenis dan angka KIPI. Upaya untuk membuat vaksin yang lebih efektif dan lebih aman serta pengembangan vaksin baru untuk berbagai jenis penyakit yang berbahaya selalu dilakukan oleh para ahli secara terus menerus.

Ada berbagai jenis vaksin yang digolongkan sesuai dengan jenis antigen yang ada didalamnya. Formulasi vaksin mempengaruhi bagiamana cara pemakaiannya, bagaimana cara penyimpanannya dan bagaimana cara pemberiannya. Vaksin-vaksin yang selama ini telah dipakai sesuia global yang dibahas dalam modul ini dibagi dalam 4 jenis.

Vaksin monovalen dan polivalen

Vaksin ada yang monovalen dan polivalen. Vaksin monovalen berisi satu jenis strain atau satu jenis antigen (contoh: vaksin campak), sedangkan vaksin polivalen berisi dua atau lebih strain /serotipe dari antigen yang sama (contohnya : oral polio vaksin/OPV).

Vaksin Kombinasi

Sebagian dari antigen yang disebutkan diatas dapat dikombinasikan menjadi satu sediaan suntikan untuk mencegah beberapa jenis penyakit PD3I yang berbeda (contohnya : vaksin DPT yang berisi 3 jenis antigen yaitu : difteri, pertusis dan tetanus). Penggabungan beberapa jenis antigen sangat bermanfaat untuk mengatasi masalah logistik apabila vaksin ini dikemas dalam satu kemasan satu jenis antigen saja dan untuk mengatasi ketakutan anak-anak akan rasa sakit akibat suntikan yang berulang-ulang.