Vaksin sel utuh yang diinaktivasi

Vaksin yang diinaktivasi dibuat dari mikroorganisme (virus, bakteri dan lain-lain) yang telah dimatikan dengan proses menggunakan bahan kimia tertentu atau secara fisik. Mikroorganisme yang sudah mati ini tidak dapat menyebabkan penyakit.

 

Respon Kekebalan

  • Vaksin yang dibuat dari bakteri utuh yang sudah diinaktivasi kalau diberikan kepada seseorang tidak selalu bisa merangsang timbulnya respon imunitas dan walaupun timbul kekebalan mungkin tidak kebal seumur hidup.
  • Diperlukan beberapa dosis untuk untuk bisa menimbulkan respon kekebalan yang memadai.

Keamanan dan stabilitas vaksin

  • Vaksin sel utuh yang diinaktivasi tidak berisiko menimbulkan penyakit karena tidak mengandung komponen hidup dari kuman.
  • Vaksin ini dianggap lebih stabil dari vaksin hidup yang dilemahkan.

Tabel di bawah ini mencantumkan reaksi simpang yang jarang dan lebih berat. Perhatikan frekuensi reaksi simpang agar kita mengetahui probabilitas sebuah reaksi. Juga baca keterangan untuk memahami informasi tambahan mengenai reaksi simpang secara detail.

Reaksi simpang terkait vaksin sel utuh yang diinaktivasi

  Vaksin Reaksi simpang jarang, serius Frekuensi Komentar
Pertussis (wP)30 Menangis berkepanjangan
dan jarang terjadi kejangKejang demamSuatu keadaan yang ditimbulkan oleh aktivitas listrik yang tidak terkontrol di dalam otak, sehingga menimbulkan kejang, gejala klinis yang khas, gangguan kesadaran atau kombinasi dari gejala-gejala tersebut.
< 1% KIPI ringan seperti kemerahan dan bengkak lokalLokalTerbatas pada bagian tubuh tertentu atau area tertentu. Demam dan agitasi sering terjadi dengan vaksin wP (10 – 50%).
Hypotonic, hyporesponsive episode (HHE)
jarang terjadi
< 0,1 – 0,2% Meskipun efeknya ringan dan bersifat sementara, reaksi ini telah mempengaruhi penolakan vaksin wPVaksin pertusis sel utuh (wP)Sediaan yang mengandung bakteri pertusis sel utuh yang dilemahkan, untuk mencegah penyakit pertusis. pada populasi tertentu. Semua vaksin wP (DTwPVaksin DTwPKombinasi toksoid difteri dan tetanus dengan komponen pertusis sel utuh, digunakan untuk imunisasi difteri, tetanus dan pertusis.) mengandung garam aluminium sebagai ajuvanAjuvanAdalah substansi farmakologi (garam alumunium, emulsi minyak dalam air) yang dapat mengubah efek dari substansi lain seperti obat atau vaksin yang apabila diberikan sendiri yang hanya sedikit memberikan efek langsung. Ajuvan seringkali berada di dalam vaksin dengan tujuan untuk memperkuat respon imun dari resipien terhadap antigen, untuk meminimalisasi materi asing. dan thimerosalThimerosalThimerosal adalah preservasi yang mengandung merkuri yang dipergunakan pada beberapa vaksin atau produk lain sejak tahun 1930. Tidak pernah ada kejadian thimerosal vaksin dalam konsentrasi rendah menimbulkan bahaya kecuali reaksi lain seperti kemerahan atau bengkak pada lokasi suntikan, pada bulan Juli 1999, US Public Health Service, the American Academy of Pediatrics, dan produsen vaksin menyepakati bahwa thiomersal harus dikurangi atau dihilangkan dari vaksin sebagai tindakan kewaspadaan. Saat ini, semua vaksin rutin pada anak yang direkomendasikan di Amerika tidak mengandung thiomersal atau hanya dalam jumlah yang sangat sedikit. sebagai bahan pengawet.
Inactivated polio vaccine (IPV)29 Tidak diketahui Banyak negara maju telah menggantikan OPV menjadi IPV karena dianggap lebih aman. IPV lebih mahal dibandingkan OPV dan berupa suntikan. Banyak negara berkembang dan penghasilan rendah menggunakan OPV.

Pertanyaan

Pernyataan mana dari bawah ini yang tidak benar?

A. Vaksin inaktivasi berisi patogen yang sudah dimatikan.
B. Vaksin inaktivasi boleh dikatakan lebih aman di bandingkan dengan vaksin hidup, terutama apabila diberikan kepada orang yang rentan (imunokompromais).
C. Vaksin inaktivasi yang berisi sel utuh dianggap lebih efektif dibandingkan dengan vaksin hidup.
D. Vaksin inaktivasi yang berisi sel utuh jangan dianggap tidak efektif karena harus diberi dosis ulangan agar dapat menimbulkan respons kekebalan yang cukup.

Jawaban

Jawaban C salah (tidak benar).

  • Vaksin inaktivasi bisa dikatakan lebih aman jika dibandingkan dengan vaksin hidup, namun efektivitasnya lebih rendah. Vaksin inaktivasi yang berisi sel utuh jangan dianggap tidak efektif karena harus diberi dosis ulangan agar dapat menimbulkan respons kekebalan yang cukup.
  • Dipihak lain vaksin hidup juga jangan dianggap tidak aman karena pembuatannya sudah mengikuti prosedur tertentu yang sangat ketat untuk menjamin keamanan vaksin. Yang lebih penting adalah bagaiman melatih staf dengan baik, bagaimana menapis pasien agar tidak ada yang memiliki kontra indikasi untuk diberikan imunisasi.