Sejarah pengembangan vaksin

Kita bisa membaca lebih jauh sejarah dari perkembangan vaksin dan imunisasi yang disajikan dalam executive summary dari WHO di bawah ini :

Ringkasan sejarah perkembangan vaksin dan imunisasi di dunia

Walaupun inokulasiInokulasiSuatu tindakan memberikan pustula cacar (smallpox) kepada seseorang dengan maksud untuk menimbulkan respon ringan terhadap pencegahan penyakit. bahan yang didapat dari nanah penderita cacar diberikan kepada orang sehat telah dilakukan 2000 tahun yang lalu di India dan Cina, namun E Jenner, seorang dokter dari Inggris, dianggap sebagai orang pertama yang memperkenalkan konsep imunisasi modern pada tahun 1796. Jenner berhasil melakukan inokulasi bahan yang didapatkan dari nanah cowpox (cacar sapi) kepada pasien untuk mencegah cacar yang disebabkan oleh virusVirusAgen infeksius berukuran ultramikroskopis yang berisi materi genetik yang dibungkus dengan protein. Virus hanya dapat memperbanyak diri di dalam tubuh pejamu hidup. sejenis.

Pada tahun 1900, dikenal ada dua jenis vaksin virus untuk manusia yaitu vaksin cacar dan vaksin anti rabies, dan tiga vaksin dari bakteri untuk mencegah typhoidTifoid (demam tifoid)Penyakit serius yang disebabkan oleh bakteri Salmonella typhi. Tifoid menyebabkan demam tinggi, kelemahan, nyeri perut, nyeri kepala, nafsu makan hilang dan kadang-kadang timbul ruam. Jika tidak diobati, 30% kasus dapat meninggal. Terdapat beberapa jenis vaksin tifoid: vaksin inaktifasi yang diberikan dengan cara suntikan, dan vaksin hidup yang dilemahkan dan diberikan secara oral (melalui mulut)., koleraKoleraPenyakit infeksi akut pada usus halus yang disebabkan oleh bakteri, Vibrio cholerae dan ditandai dengan diare cair yang hebat, muntah, kram otot, dehidrasi berat dan penurunan elektrolit. dan pesPesPenyakit infeksi yang serius, mengancam jiwa pada umumnya ditularkan kepada manusia melalui gigigan kutu hewan pengerat. Merupakan salah satu penyakit yang terjadi pada awal sejarah manusia..

Dengan surveilans yang baik dan program vaksinasi cacar yang baik dunia dinyatakan bebas cacar tahun 1979 dan diumumkan pda tahun 1980 melalui resolusi WHA. Dunia bebas cacar merupakan tonggak sejarah kemenangan gemilang umat manusia melawan penyakit yang mengancam kesehatan masyarakat.

Pertanyaan

Dunia bebas cacar tahun 1979. Apa beda eradikasi dan eliminasi ? pilih salah satu definisi yang benar untuk istilah eradikasi dan eliminasi :

A. Eradikasi adalah keadaan dimana suatu penyakit tidak ditemukan lagi di dunia secara permanen melalui upaya-upaya yang terorganisir.
B. Eradikasi adalah keadaan dimana suatu penyakit nol atau sangat rendah sekali di suatu wilayah geografi tertentu.
C. Eliminasi adalah keadaan dimana insiden suatu penyakit mencapai nol secara permanen di seluruh dunia melalui upaya-upaya yang terorganisir.
D. Eliminasi adalah keadaan dimana insidens suatu penyakit nol atau sangat rendah sekali di wilayah geografis tertentu.

Jawaban

Jawaban yang benar : A dan D.

Apabila status eradikasiEradikasiReduksi di dunia secara lengkap dan permanen mencapai nol kasus baru dari penyakit infeksi melalui upaya kesehatan; tidak diperlukan penilaian lebih lanjut. sudah tercapai, maka tidak diperlukan lagi upaya-upaya pencegahan dan pemberantasan sehingga anggaran bisa dialihkan untuk membiayai program kesehatan masyarakat lainnya.

Sedangkan pada status eliminasiEliminasiPenurunan ke angka nol (atau didefinisikan sebagai target sangat rendah) kasus baru dari penyakit infeksi di suatu area secara geografis sebagai hasil upaya kesehatan; dan penilaian berkesinambungan untuk mencegah terjadinya kembali transmisi., tidak ditemukan lagi penderita baru di suatu wilayah geografi tertentu namun upaya penaggulangannya harus terus menerus dilakukan untuk mempertahan status eliminasi ini. Hal ini perlu dilakukan karena agen penyebab masih tetap ada di lingkungan sekitarnya dan dapat muncul kembali. Jadi pada kondisi eliminasi upaya pencegahan dan pemberantasan harus terus dilakukan untuk mencegah munculnya kembali penyakit tersebut.

Pada abad ke 20 beberapa jenis vaksin lain ditemukan seperti vaksin pertusis (batuk rejan). Pertusis disebabkan oleh Bordetella pertussis dengan gejala batuk yang khas seperti menggonggong, batuk ini disebut juga batuk rejan.

Penyakit difteri disebabkan oleh strain toksigenik dari Corynebacterium diphteriae dengan gejala khas pembentukan pseudomembrane di tenggorokan. Penyakit ini fatal pada anak-anak yang tidak diimunisasi.

Vaksin tetanus untuk mencegah penyakit tetanus yang disebabkan oleh Clostridium tetani. Penyakit yang jarang namun fatal karena menyerang sistem syaraf pusat yang dapat menimbulkan kejang-kejang.

Berikutnya ditemukan vaksin polio dan vaksin campak. Campak disebabkan oleh virus yang menular dan menimbulkan gejala demam, erupsi kulit yang berupa bercak bulat pada kulit dan dapat menyebabkan kematian pada usia muda dan individu yang daya tahan tubuhnya lemah. Rubela gejalanya mirip campak namun lebih ringan dibandingkan campak. Rubela menjadi masalah apabila menginfeksi ibu hamil karena dapat menimbulkan kecacatan dan kematian pada janin.

Begitu vaksin-vaksin tersebut diatas tersedia di pasaran negara-negara maju menganjurkan pemberian imunisasi rutin kepada bayi-bayi mereka. Sampai saat ini ada lebih dari 20 jenis vaksin untuk PD3I.

Pengaturan dan isu keamanan vaksin sebelum dan setelah lisensi akan dibicarakan selanjutnya pada modul ini.

Berdasarkan pengalaman keberhasilan dari program pembasmian cacar maka pada tahun 1974, WHO meluncurkan Program Pengembangan Imunisasi (Expanded Programme on Immunization (EPI)). Pada awalnya, EPI bertujuan menjamin agar semua anak-anak menerima vaksin untuk melindungi mereka dari enam penyakit pada anak yaitu : tuberkulosisTuberkulosis (TB)Penyakit yang disebabkan oleh bakteri Mycobacterium tuberculosis. Bakteri tersebut umumnya menyerang paru-paru. Namun , bakteri TB dapat menyerang bagian tubuh lainnya seperti ginjal, tulang belakang dan otak. Apabila tidak diobati dengan sempurna TB dapat menyebabkan kematian., polio, difteri, pertusis, tetanus dan campak yang diberikan sebelum usia satu tahun. Khusus vaksin Tetanus toksoid (TT)Vaksin toksoid tetanus (TT)Vaksin TT digunakan untuk mencegah tetanus. Apabila akan diberikan pada wanita usia subur, vaksin yang mengandung toksoid tetanus (TT atau Td) tidak hanya melindungi wanita terhadap tetanus, tapi juga mencegah tetanus neonatorum pada bayi baru lahir. yang diberikan kepada wanita usia subur (WUS), selain melindungi WUS itu sendiri juga melindungi bayi mereka yang baru lahir dari tetanus neonatorum akibat penanganan tali pusat yang tidak steril pada saat dilahirkan.

Sejak itu banyak vaksin-vaksin baru muncul dan beredar di pasaran antara lain vaksin hepatitis BHepatitis BInfeksi virus yang mengenai hati yang ditularkan melalui kontak dengan darah atau cairan tubuh yang terinfeksi virus hepatitis. Beberapa infeksi terutama yang didapat pada saat bayi, dapat berkembang menjadi kronis dan mengakibatkan sirosis dan kanker hati primer pada usia dewasa., rotavirusRotavirusKelompok virus yang menyebabkan diare (rotaviral gastroenteritis) pada anak., Haemophilus tipe b (Hib)Haemophilus influenzae tipe b (Hib)Bakteri ini dapat menyebabkan penyakit infeksi invasif yang serius seperti pneumonia dan meningitis; terutama pada anak dan orang dengan imuno kompromais (sistem kekebalan menurun terhadap infeksi). Hib merupakan satu dari enam penyebab utama meningitis bakterialis pada bayi yang tidak di imunisasi.. Vaksin pneumokok dianjurkan oleh WHO untuk dipakai secara global. Vaksin lain yang ditemukan pada dekade berikutnya adalah vaksin yellow feverYellow FeverPenyakit virus tropis yang sangat menular yang ditularkan melalui nyamuk dan ditandai dengan demam tinggi, ikterus dan perdarahan saluran cerna. (demam kuning).

Sampai tahun 1990 imunisasi yang dilakukan secara rutin telah melindungi lebih dari 80% anak-anak di dunia dari enam jenis PD3I. Setelah itu di beberapa negara selain ke-6 antigen, dan beberapa vaksin baru ditambahkan dalam imunisasi rutin mereka.

Pada tahun 1999 dibentuklah GAVI (Global Alliance for Vaccine and Immunization) yang tujuannya untuk memperluas jangkauan program pengembangan imunisasi kepada penduduk terutama di daerah terpencil, dan membantu negara-negara yang sangat miskin untuk introduksi vaksin baru dan vaksin yang kurang pemanfaatannya (under used) untuk melindungi anak-anak mereka dari infeksi penyakit yang membahayakan jiwa.

History of Vaccine development
Penguatan program pengembangan imunisasi WHO

Walaupun menurut catatan yang ada sekitar 24 juta bayi masih belum menerima imunisasi lengkap dari vaksin yang diberikan secara rutin melalui PPI, secara umum PPI telah behasil menurunkan jumlah penderita campak dan polio (lihat grafik). Kedua penyakit ini adalah penyakit yang ditargetkan WHO untuk dieliminasi dengan imunisasi (termasuk Tetanus neonatorum).