Klasifikasi KIPI

KIPI adalah setiap kejadian medis yang tidak diinginkan pada seseorang yang terjadi setelah pemberian imunisasi. Kejadian ini dapat merupakan reaksi vaksin ataupun bukan. Kejadian yang bukan reaksi vaksin dapat merupakan peristiwa koinsidens (peristiwa yang kebetulan terjadi) bersamaan atau setelah imunisasi. Klasifikasi KIPI dibagi menjadi 5 kategori : Pilihlah salah satu dari 5 kategori dibawah ini untuk mempelajari lebih jauh tentang klasifikasi KIPI.

Reaksi KIPI yang terkait komponen vaksin

KIPI yang diakibatkan sebagai reaksi terhadap satu komponen atau lebih yang terkandung di dalam vaksin.

Contoh : Pembengkakan luas di paha setelah imunisasi DTP.

Reaksi KIPI yang terkait dengan cacat mutu vaksin

KIPI yang disebabkan oleh karena ada cacat mutu yang dipersyaratkan dalam produk vaksin, termasuk penggunaan alat untuk pemberian vaksin yang disediakan oleh produsen.

Contoh : Kelalaian atau kesalahan yang dilakukan oleh produsen vaksin pada waktu melakukan inaktivasi virus polio saat proses pembuatan vaksin IPVVaksin polio inaktivasi (IPV)Vaksin polio inaktivasi (mati) dibuat pada tahun 1955 oleh Dr. Jonas Salk. Berbeda dengn vaksin polio oral (OPV) , vaksin hidup yang dilemahkan (LAV) , IPV harus diberikan melalui suntikan untuk membentuk respon imun. (inactivated polio vaccine). Kelalaian dalam proses inaktivasi dapat menyebabkan kelumpuhan apabila IPV tersebut disuntikkan kepada orang.

Reaksi KIPI akibat kesalahan prosedur

KIPI jenis ini disebabkan oleh cara pelarutan vaksin yang salah dan cara pemberian vaksin yang salah. Kesalahan ini sangat mudah untuk dihindari.

Contoh : Terjadinya infeksi oleh karena penggunaan vial multidosis yang terkontaminasi oleh mikroba (Catatan : Jarum yang berulang-ulang masuk ke dalam vial sewaktu mengambil vaksin sudah tidak steril lagi).

Reaksi KIPI akibat kecemasan karena takut disuntik

KIPI ini terjadi karena kecemasan pada waktu disuntik.

Contoh : Terjadinya apa yang disebut dengan vasovagal syncopeSinkope vasovagalReaksi neurovaskuler yang menyebabkan pingsan. yaitu reaksi neurovaskuler yang menyebabkan terjadinya mata berkunang-kunang , badan terasa lemah sampai pingsan. Sering terjadi pada anak dewasa muda pada saat pemberian imunisasi atau sesudah pemberian imunisasi.

Kejadian Koinsiden

KIPI ini disebabkan oleh hal-hal lain yang tidak disebutkan sebelumnya.

Contoh : Demam yang sudah terjadi sebelum atau pada saat pemberian imunisasi. Dalam hal ini dikatakan sebagai asosiasi temporalAsosiasi temporalDua atau lebih kejadian yang terjadi pada waktu yang bersamaan. Kejadian pertama dapat berhubungan atau tidak berhubungan dengan kejadian berikutnya.. Sebagai contoh di daerah endemis malariaMalariaPenyaki infeksi yang disebabkan oleh parasit (plasmodium) yang ditularkan dari manusia ke manusia melalui gigitan nyamuk anopheles betina yang terinfeksi. Malaria merupakan penyebab utama kesakitan dan kematian di sub sahara Afrika. seperti di daerah sub sahara, penderita malaria yang disebabkan infeksi plasmodium malaria yang ditularkan oleh nyamuk anopheles sangat sering terjadi. Sehingga sering terjadi KIPI yang bersifat koinsiden.

KIPI koinsiden apabila sering ditemukan didalam kegiatan imunisasi, maka dapat dijadikan sebagai indikasi bahwa ada masalah kesehatan masyarakat diwilayah tersebut yang perlu dianalisis lebih jauh.

Pertanyaan

Apakah yang dimaksud dengan reaksi KIPI akibat komponen vaksin. Pilihlah jawaban yang menurut Anda benar dibawah ini.

A. KIPI akibat reaksi vaksin adalah kejadian yang terkait langsung dengan vaksin itu sendiri atau dipresipitasi oleh vaksin tersebut dengan catatan bahwa cara pemberiannya sudah benar sesuai dengan SOP.
B. KIPI akibat reaksi vaksin bisa disebabkan karena salah dalam pemberiannya.
C. KIPI akibat vaksin bisa sebagai akibat dari kejadian koinsiden.
D. KIPI disebabkan oleh semua yang disebutkan dalam A, B, C.

Jawaban

Jawaban A dan D benar.

Pesan Utama

Perbedaan antara KIPI yang langsung disebabkan oleh reaksi vaksin atau bukan reaksi vaksin harus dijelaskan kepada masyarakat dan orangtua.

Dengan mendapatkan seluruh informasi yang mereka butuhkan tentang imunisasi, maka masyarakat dengan penuh kesadaran akan membawa bayi dan anak-anak mereka untuk diimunisasi.

Petugas kesehatan harus terlatih dan mengetahui segala informasi yang dibutuhkan oleh masyarakat tentang imunisasi. Informasi mengenai manfaat imunisasi harus dijelaskan setiap kali kunjungan sehingga meningkatkan kepercayaan orangtua terhadap program imunisasi.