Lebih jauh tentang vaksin hepatitis B

Vaksin hepatitis B generasi awal dibuat dengan plasma (plama derived), yaitu dengan cara memanen antigen permukaan dari virus hepatitis B (HbsAg), yang didapat dari plasma penderita hepatitis B kronis. Partikel ini sangat murni. Proses pemurnian dilakukan dengan cara setiap residu partikel yang infeksius di inaktivasi dengan kombinasi urea, pepsin, formaldehyde dan pemanasan. Walaupun kekhawatiran masyarakat akan terjadinya kontaminasi dan penularan penyakit-penyakit melalui darah seperti HIV-AIDS tidak terbukti, namun hal ini mempengaruhi penerimaan masyarakat terhadap imunisasi hepatitis B dengan plasma. Oleh karena itu para ahli terus menerus melakukan penelitian untuk mengembangkan vaksin hepatitis B dengan teknologi rekombinan.

Pada tahun 1986 untuk pertama kali vaksin hepatitis B dengan teknologi rekombinan diberi izin untuk dipakai dan diperdagangkan, dan kemudian izin kedua diberikan pada tahun 1989. Teknologi rekombinan ini memungkinkan pembuatan vaksin hepatitis B dengan jumlah yang tidak terbatas oleh karena HBsAg dapat diperbanyak dengan menggunakan mikroorganisme lain.

Walaupun vaksin hepatitis B, baik yang menggunakan teknologi plasma maupun rekombinan, sangat aman dan efektif dalam menimbulkan kekebalan untuk melindungi seseorang dari infeksi hepatitis B baik akut maupun kronis termasuk sirosis dan kanker hati, namun akibat kompetisi diantara produsen vaksin hepatitis B terjadi penurunan harga vaksin (lihat gambar grafik di bawah). Pada saat harga vaksin plasma dan vaksin rekombinan relatif sama, maka vaksin rekombinan secara perlahan menggantikan vaksin hepatitis B teknologi plasma.